Thursday, February 13, 2014

DEFINASI EMPATI

Pengertian Empati -1909 berasal dari bahasa latin em dan pathos yang artinya feeling into.
Empati berasal dari bahasa Yunani yang berarti “ketertarikan fisik”. Sehingga dapat di defenisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengenali, mempersepsi, dan merasakan perasaan orang lain.
Psikolog Edward Titchener (1867-1927) memperkenalkan "empati" pada 1909 ke dalam bahasa Inggris sebagai terjemahan dari istilah Jerman "Einfühlung" (atau "perasaan menjadi
Beberapa ahli  psikology mengatakan defenisi empati yaitu :
a.    Menurut Bullmer, empati adalah suatu proses ketika seseorang merasakan perasaan orang lain dan menangkap arti perasaan itu, kemudian mengkomunikasikannya dengan kepekaan sedemikian rupa hingga menunjukkan bahwa ia sungguh sungguh mengerti perasaan orang lain itu. Bullmer menganggap empati lebih merupakan pemahaman terhadap orang lain ketimbang suatu diagnosis dan evaluasi terhadap orang lain. Empati menekankan kebersamaan dengan orang lain lebih daripada sekedar hubungan yang menempatkan orang lain sebagai objek manipulatif.
b.    Taylor menyatakan bahwa empati merupakan faktor esensial untuk membangun hubungann yang saling mempercayai. Ia memandang empati sebagai usaha menyelam ke dalam perasaan orang lain untuk merasakan dan menangkap makna perasaan itu. Empati memberikan sumbangan guna terciptanya hubungan yang saling mempercayai karena empati mengkomunikasikan sikap penerimaan dan pengertian terhadap perasan orang lain secara tepat.
c.    Alfred Adler menyebut empati sebagai penerimaan terhadap perasaan orang lain dan meletakkan diri kita pada tempat orang itu. Empathy berarti to feel in, berati merasakan betapa dalamnya perasan orang itu.
d.    Tubesing memandang empati merupakan identifikasi sementara terhadap sebagian atau sekurang kurangnya satu segi dari pengalaman orang lain. Berempati tidak melenyapkan ke “aku”an kita. Perasaan kita sendiri takkan hilang ketika kita mengembangkan kemampuan untuk menerima pula perasaan orang lain yang juga tetap menjadi milik orang itu. Menerima diri orang lain pun tidak identik dengan menyetujui perilakunya. Meskipun demikian, empati menghindarkan tekanan, pengadilan, pemberian nasihat apalagi keputusan. Dalam berempati, kita berusaha mengerti bagaimana orang lain merasakan perasaan tertentu dan mendengarkan bukan sekedar perkataannya melainkan tentang hidup pribadinya, siapa dia dan bagaimana dia merasakan dirinya dalam dunianya.
e.    Menurut Jalaludin Rakhmat bahwa :
 Berempati artinya membayangkan diri kita pada kejadian yang menimpa orang lain. Dengan empati kita berusaha melihat seperti orang lain melihat, dan merasakan seperti orang lain merasakan.
f.    Empati menurut Abu Ahmadi (2003) ialah kecenderungan untuk merasakan sesuatu yang dilakukan orang ain andaikata dia dalam situasi orang lain tersebut. Karena empati, orang dapat menggunakan perasaannya dengan efektif di dalam situasi orang lain, di dorong oleh emosinya seolah-oleh dia ikut mengambil bagian dalam gerakan-gerakan yang dilakukan orang lain. Di sini ada situasi “feeling into a person or thing”.
g. Dua pendekatan yang digunakan untuk memahami teori empati, yakni teori dari Baron-Cohen & Wheelwright (2004), yang membagi empati ke dalam dua pendekatan,
i.       Pendekatan afektif
Pendekatan afektif mendefinisikan empati sebagai  pengamatan emosional yang merespon afektif lain. Dalam pandangan afektif, perbedaan definisi empati  dilihat dari seberapa besar dan kecilnya respon emosional pengamat pada emosi yang terjadi pada orang lain.
ii.      Pendekatan kognitif

            Pendekatan kognitif merupakan aspek yang menimbulkan pemahaman terhadap perasaan orang lain. Eisenberg & Strayer (dalam Baron-Cohen & Wheelwright 2004) menyatakan  bahwa salah satu yang paling mendasar pada proses empati adalah pemahaman adanya perbedaan antara individu (perceiver) dan orang lain. 

No comments:

Post a Comment